Ungkapan
rasa seseorang adakalanya tersampaikan secara lugas, tapi suatu ketika
menggunakan majas-majas atau gaya bahasa. Buku ini mengisyaratkan ungkapan rasa
yang diwarnai pemilihan diksi-diksi berbahasa jawa (tidak lugas). Sehingga bisa
dikatakan ungkapan rasa melalui sastra berbahasa jawa.
Dalam
memaknai kadang-kadang tidak sepenuhnya harus mengerti makna kata per kata.
Namun pemilihan diksi kata yang seakan berirama atau bahkan sengaja mengalir
tanpa pola.
Ungkapan
rasa bersastra jawa inilah yang disebut geguritan . Dari kata dasar gurit
artinya menorehkan sesuatu ujung seperti pena. Goresan ujung pena yang tersusun
menjadi kalimat-kalimat indah. Bahkan apabila diucapkan dengan intonasi dan
tempo yang menjiwai akan sangat menembus hati pendengarnya.
Kisah
malam, keunikan gelam, dan kesyahduan remang banyak tertulis di buku
"lintang aliyan" ini. Seperti larut kang merbawa , yang secara lugas
larut berarti senja, suatu keadaan bukan gelap bukan terang. Terlihatnya
keagungan Tuhan di waktu-waktu seperti itu. Dalam menjalani hari-hari
kehidupan, manusia membutuhkan pemenuhan kebutuhan namun tidak meninggalkan
hakekatnya sebagai hamba, seperti dalam "kendhil nggoling".
Kejernihan hati terlukis dalam sajak-sajak gurit yang bercerita
"bening" nya air dan sifat-sifatnya. Mengalir mengikuti pola hukum
Tuhan.
Dan
akhirnya diperlukan kebersamaan hidup, berdampingan dengan manusia lain yang
harus berinteraksi dalam "sanja sambang dan sumbang"
Tak
luput dari rasa kehilangan yang harus diikhlaskan.
Semoga
perjalanan geguritan dan memaknai alam dengan bersastra jawa ini menginspirasi
dan memotivasi kita untuk hidup menjadi lebih asik.
Kupersembahkan
gurit Lintang Aliyan ini kepada semua sahabat, teman, dan saudaraku yang
mencintai katresnan.