Dilihat 580 | 0 Terjual
Uab Meto dialek Amanatun Selatan memiliki bahasa formal
maupun non formal yang seringkali digunakan dalam komunikasi
sehari-hari. Penggunaan bahasa formal lebih sering digunakan hanya pada
situasi tertentu atau tergantung konteks yang dihadapi. Masyarakat Dawan
(Atoin Meto) adalah pengguna Uab Meto menunjukkan kesantunan dalam bertindak tutur dengan membudayakan penggunaan bahasa formal dalam komunikasi.
Uab Meto merupakan bahasa pertama atau bahasa ibu bagi orang Dawan (Atoin Meto). Penutur bahasa Dawan dikenal sebagai “Suku Dawan” atau “Atoin Meto”
yang berarti orang dari tanah kering. Seiring dengan perkembangan arus
globalisasi dan pendidikan yang semakin maju maka orang Dawan (Atoin Meto)
lebih mengadopsi dan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.
Pernyataan tersebut dapat ditemui di kalangan generasi muda dalam
komunikasi sehari-hari yang jarang menggunakan Uab Meto) dalam bentuk formal dan bentuk kiasan, maka akan sangat mungkin bahwa bahasa Dawan (Uab Meto)
akan semakin memudar bahkan akan punah. Kondisi seperti ini perlu
diwaspadai agar tidak berakibat pada matinya bahasa tersebut.
Uraian tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Uab Meto dialek Amanatun Selatan memiliki kosa kata yang digunakan pada situasi formal dan non formal.
Bahasa adalah jati diri penuturnya. Uab Meto adalah warisan budaya Atoin Meto
yang berperan sebagai sarana komunikasi di era revolusi industri
mencerminkan jati diri penuturnya, karena itu lindungi dan lestarikan Uab Meto dari fenomena disrupsi budaya.
Lebih banyak
Tentang Buku
137
Halaman
137
Menit
-
Kata
Judul : Leksikografi Uab Meto Dialek Amanatun Selatan
Penulis : Margarita D. I. Ottu
Ukuran : 15,5 x 23 cm
Tebal : 137 Halaman
No ISBN : 978-623-56871-8-6
Lebih banyak
Penerbit Adab
0
Terjual
0
Lencana