Pendidikan adalah usaha , sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU
N0 20 Tahun 2003 Pasal 1).
Secara nyata
matematika sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari maupun ilmu
pengetahuan dan teknologi. Karena itu matematika diajarkan sejak anak sekolah
dasar (SD). Pembelajaran yang diberikan guru harus bermakna karena kebermaknaan
akan menyebabkan peserta didik menjadi terkesan, sehingga pelajaran tersebut
akan mempunyai masa ingatan (rentention
spam ) yang lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat hafalan.
Pembelajaran bermakna akan membuat materi pelajaran menjadi menarik, bermanfaat
dan menantang terhadap penerapan konsep, sehingga konsep-konsep itu akan
dipahami dan tertanam dengan baik dalam pikiran peserta didik.
Peningkatan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) berarti proses, cara pembuatan peningkatan, usaha, kegiatan
dan sebagainya yang dilakukan orang agar menjadi lebih baik prestasinya nanti,
dalam hal ini yaitu kemampuan penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka
nilai yang diberikan oleh guru (Depdikbud, 1999: 787). Oleh
karena itu, guru harus melakukan upaya untuk dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa.
Keaktifan belajar
merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Keaktifan
siswa dapat berwujud perilaku-perilaku dan rasa antusias yang muncul dalam
proses pembelajaran. Keaktifan sangat penting dalam pembelajaran, jika tidak
direspon dengan baik maka dapat menimbulkan dampak yang tidak baik bagi siswa
dalam pencapaian prestasi belajar. Hal ini terjadi karena keaktifan dapat
membuat siswa mengikuti jalannya proses pembelajaran dengan baik. Siswa
diharapkan untuk bersikap aktif dalam merespon proses pembelajaran yang
disampaikan oleh guru. Keaktifan
belajar pada hakekatnya merupakan
pencerminan dari usaha belajar. Semakin baik usaha belajar seorang siswa,
semakin baik pula prestasi belajar yang
di perolehnya.
Keberhasilan dalam proses pembelajaran,
dapat diukur dengan banyaknya siswa yang aktif dan hasil belajar dalam menguasai
materi pelajaran. Semakin banyak siswa yang aktif dan menguasai materi, maka
semakin banyak pula siswa yang mampu mencapai keberhasilan dalam pembelajaran.
Jika siswa tidak menanamkan sikap keaktifan saat proses belajar mengajar
berlangsung, siswa akan sulit untuk mengikuti pelajaran. Guru mempunyai tugas
untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk
mencapai tujuan (Slameto, 2013: 97).
Selama ini pembelajaran dalam kelas hanya
bersumber pada guru dan buku, seolah-olah hanya buku dan gurulah yang dianggap
sebagai sumber belajar. Sebenarnya sumber belajar sangatlah luas bisa meliputi
manusia , bahan, alat, teknik, dan lingkungan belajar. Peserta didik yang
berada pada sekolah dasar khususnya kelas rendah dalam proses pembelajaran
masih bergantung kepada obyek-obyek kongkrit di sekitarnya. Pembelajaran yang
cocok bagi peserta didik SD kelas rendah, perlu menggunakan peristiwa atau
benda-benda yang dilihatnya. Apabila dikaitkan dengan penjumlahan dan
peengurangan maka mengoperasikan penjumlahan dan pengurangan maka melaksanakan
suatu kegiatan menjumlah dan mengurangkan suatu bilangan. Mengoperasikan suatu
kegiatan tidaklah mudah, guru sebagai pendidik harus memapu memilih strategi
dan media yang tepat.
Salah satu sumber belajar yang digunakan
pada penelitian ini, dalam membelajarkan matematika menggunakan alat bantu
media berupa benda-benda kongkrit seperti buku, pensil, meja, kursi, kelereng,
kerikil, daun, ranting, permen dsb. Berbicara mengenai pembelajaran matematika
di SD banyaklah kekurangan yang terjadi, mengakibatkan hasil pembelajaran
matematika yang dikelola mejadi kurang maksimal, ini terjadi pada waktu peneliti
mengadakan penilaian harian tentang operasi penjumlahan dan penguarangan pada
siswa kelas 1. Dari 8 siswa, hanya 2 siswa yang mampu mengerjakan, sehingga
kriteria ketuntasan minimum yang telah dibuat oleh guru (65), masih terdapat 6
siswa yang belum bisa mencapianya, dari hasil penilaian harian rata-rata kelas
hanya mencapai 47,50.
Berdasarkan uraian di atas peneliti akan
mengadakan penelitian yang berjudul “ Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar
Siswa Kelas 1 SD Dalam Menoperasikan Penjumlahan dan Pengurangan Dengan bantuan
Benda-benda Kongkrit Di SDN Sekargadung kecamatan Dukun – Kabupaten Gresik
Tahun Pelajaran 2018/2019” . Pada awalnya guru menyampaikan materi
secara abstrak atau tanpa menggunakan bantuan benda-benda kongkrit, kemudian
peneliti akan mencoba dengan menggunakan alat seperti buku, pensil, meja,
kursi, kerikil, daun, ranting, dsb dalam membelajarkan siswa tentang operasi
secara nyata dalam menghitung operasi penjumlahan dan pengurangan. Bantuan
benda-benda kongkrit tersebut akan membuat siswa lebih mudah menangkap materi
ajar yang diberikan oleh guru. Dengan demikian penggunaan bantuan benda-benda
kongkrit tersebut peneliti berharap dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa
dalam proses belajar mengajar.